Wednesday, August 1, 2007

Fwd: Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti artinya?

---------- Forwarded message ----------
From: Chalendra <chalendra.ranu@singgar-mulia.co.id>
Date: Aug 1, 2007 4:51 PM
Subject: Mengapa kita membaca AlQuran meskipun kita tidak mengerti artinya?
To: Akhmad Khabibi <kbh651@yahoo.co.id>
Cc: tarantula mx <tarantula_mx@yahoo.com>, Muhartriyas Wibisono
<muhartriyas@yahoo.com>, Indah Setyorini <indah_setyo_fkua@yahoo.com>,
Hanung <hanung665@gmail.com>, Gigih Mardana
<gigihmardanaku@yahoo.com>, Dira Lestari <gate_tsu@yahoo.com>, Citra
<seekei_ck@yahoo.com>, Cahyo Budi Nugroho
<cahyobudinugroho@gmail.com>, awidya santikajaya <akhi_cok@yahoo.com>,
Andik Prasetyo <andp_buanavizta@yahoo.com>, Ana Fitri
<ning_tias@eramuslim.com>


This is a beautiful story

An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern
Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early
sitting at the kitchen table reading his Quran. His grandson wanted to
be just like him and tried to imitate him in every way he could. One
day the grandson asked, "Grandpa! I try to read the Qur'an just like
you but I don't understand it, and what I do understand I forget as
soon as I close the book. What good does reading the Qur'an do?" The
Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied,
"Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of
water." The boy did as he was told, but all the water leaked out
before he got back to the house. The grandfather laughed and said,
"You'll have to move a little faster next time," and sent him back to
the river with the basket to try again. This time the boy ran faster,
but again the bas ket was empty before he returned home. Out of
breath, he told his

grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he
went to get a bucket instead. The old man said, "I don't want a bucket
of water; I want a basket of water. You're just not trying hard
enough," and he went out the door to watch the boy try again. At this
point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his
grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would
Leak out before he got back to the house. The boy again dipped the
basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather
the basket was again empty. Out of breathe, he said, "See Grandpa,
it's useless!" "So you think it is useless?" The old man said, "Look
at the basket." The boy looked at the basket and for the first time
realized that the basket was different. It had been transformed from a
dirty old coal basket and was now clean, inside and out. "Son, that's
what happens when you read the Qur'an. You mi ght not understand or
remember everything, but when you read it, you will be changed, inside
and out. That is the work of Allah in our lives.

" If you feel this email is worth reading, please forward to your
contacts/friends. Prophet Muhammad ( p.b.u.h) says: "The one who
guides to good will be rewarded equally"

Terjemahan bebasnya:

Suatu cerita yang indah:

Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu
pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya
yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran
di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi
seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun
semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, " Kakek! Aku mencoba
untuk membaca Qur'An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak
memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup
buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur'An? Dengan tenang sang Kakek
dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil
melobangi keranjang nya ia menjawab, " Bawa keranjang batubara ini ke
sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air." Maka sang cucu
melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis
menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih
cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan
keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi
tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.
Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil
membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka
sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.

Sang kakek berkata, " Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang
batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi
ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya
yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan
kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air
tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat
tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek
keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat
Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?" Jawab kakek.

Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya." Sang cucu menurut, melihat ke
dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang
itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang
batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. " Cucuku, hal
itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur'An. Kamu tidak bisa
memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi,
kamu akan berubah, luar dalam.

Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita."

Jika kamu merasa email ini patut dibaca, maka lanjutkanlah ke
teman-temanmu. Seperti sabda Nabi Muhammad( SAW) :
" Bagi siapa saja yang membawa kebaikan maka akan mendapat ganjarannya"

from: Oni Mayendra


--
[h][A][n][u][N][g] - living in the beautiful life

11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT
"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Fwd: Bunuhlah seekor ayam utk menakuti seribu ekor kera



---------- Forwarded message ----------
From: Chalendra <chalendra.ranu@singgar-mulia.co.id>
Date: Aug 1, 2007 4:54 PM
Subject: Bunuhlah seekor ayam utk menakuti seribu ekor kera
To: Akhmad Khabibi <kbh651@yahoo.co.id>
Cc: tarantula mx < tarantula_mx@yahoo.com>, Hanung <hanung665@gmail.com>, Gigih Mardana <gigihmardanaku@yahoo.com>, Dira Lestari < gate_tsu@yahoo.com>, Cahyo Budi Nugroho <cahyobudinugroho@gmail.com>, awidya santikajaya <akhi_cok@yahoo.com>, Andik Prasetyo < andp_buanavizta@yahoo.com>

Bunuhlah seekor ayam utk menakuti seribu ekor kera

 

Kira2 di indonesia bisa nggak ya diterapkan seperti ini ......

 

Bangsa Ini Memerlukan Zhu?
Oleh: Asro Kamal Rokan (Republika Online)

Amazing!
Dari tahun 2001 sampai 2005 Cina telah menghukum mati 4000 orang karena korupsi, dan menurut Amnesti Internasional (AI) fakta sesungguhnya masih lebih banyak lagi. Orang bilang komunis itu kejam, tapi cara tsb
terbukti sukses memberantas korupsi dan hasilnya terlihat indikator perekonomian Cina melesat. Bunuhlah seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera, beranikah
Indonesia meniru?

Xiao Hongbo telah dihukum mati pekan lalu. Delapan orang pacarnya -- yang dibiayai dalam kehidupan mewah-- mungkin hanya menangisi lelaki berusia 37 tahun. Tidak ada yang bisa membantunya. Deputi manajer cabang Bank Konstruksi
China , salah satu bank milik negara, di Dacheng, Provinsi Sichuan , itu dihukum mati karena korupsi. Xiao telah merugikan bank sebesar 4 juta yuan atau sekitar Rp 3,9 miliar
sejak 1998 hingga 2001. Uang itu digunakan untuk membiayai kehidupan delapan pacarnya.

Xiao Hongbo satu di antara lebih dari empat ribu orang di Cina yang telah dihukum mati sejak 2001 karena terbukti melakukan kejahatan, termasuk korupsi. Angka empat ribu itu, menurut Amnesti Internasional
(AI),jauh lebih kecil dari fakta sesungguhnya. AI mengutuk cara-cara Cina itu, yang mereka sebut sebagai suatu yang mengerikan. Tapi, bagi Perdana Menteri Zhu Rongji inilah jalan menyelamatkan Cina dari kehancuran. Ketika dilantik menjadi perdana menteri pada 1998, Zhu dengan lantang mengatakan, ''Berikan kepada saya seratus peti mati, sembilan puluh sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya
melakukan hal yang sama.''

Zhu tidak main-main. Cheng Kejie, pejabat tinggi Partai Komunis Cina, dihukum mati karena menerima suap
lima juta dolar AS. Tidak ada tawar-menawar. Permohonan banding wakil ketua Kongres Rakyat Nasional
itu ditolak pengadilan. Bahkan istrinya, Li Ping, yang membantu suaminya meminta uang suap, dihukum penjara. 

Wakil Gubernur Provinsi
Jiangxi , Hu Chang-ging, pun tak luput dari peti mati. Hu terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5 miliar. Ratusan bahkan mungkin ribuan peti mati telah terisi, tidak
hanya oleh para pejabat korup, tapi juga pengusaha, bahkan wartawan. Selama empat bulan pada 2003 lalu, 33.761 polisi dipecat. Mereka dipecat tidak hanya karena menerima suap, tapi juga berjudi, mabuk-mabukan,
membawa senjata di luar tugas, dan kualitas di bawah standar. Agaknya Zhu Rongji paham betul pepatah Cina: bunuhlah seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera.
Dan, sejak ayam-ayam dibunuh, kera-kera menjadi takut, kini pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 9 persen per tahun dengan nilai pendapatan domestic bruto sebesar 1.000 dolar AS. Cadangan devisa mereka
sudah mencapai 300 miliar dolar AS.

Sukses Cina itu, menurut guru besar Universitas Peking, Prof Kong Yuanzhi, karena Zhu serius memberantas korupsi. Perang terhadap korupsi diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Zhu
mengeluarkan dana besar untuk pendidikan manajemen, mengirim ribuan siswa belajar ke
luar negeri, dan juga mengundang pakar bisnis berbicara di Cina.


Kini, lihatlah apa yang terjadi di
Indonesia . Pengangguran terus bertambah, anak-anak gadis dari desa terpaksa menjadi pelacur di kota, lulusan SMU menjadi pengamen, anak-anak SD yang malu
tidak dapat membayar uang sekolah, bunuh diri. Ratusan ribu orang tumpah ke kota-kota karena di desa tidak ada harapan. Ratusan ribu orang menjadi tenaga kerja di luar negeri, ditipu calo dan disiksa majikannya. Mereka adalah korban. Koruptor menghisap hidup mereka, bertahun-tahun tanpa ada
yang menolong. Koruptor mengambil hak mereka atas tanah, hak mereka atas air, hak mereka untuk sekolah, hak mereka untuk berdagang, hak mereka untuk bekerja, hak mereka untuk mendapatkan layanan, hak mereka untuk kesehatan.

Apalagi hak yang tersisa untuk orang-orang miskin itu? Pemerintah bukan penolong orang-orang miskin, terkadang mereka juga mengambil uang dari orang-orang miskin. Bangsa ini memerlukan orang seperti Zhu Rongji, bukan pecundang atau pesolek yang tiap kali berbicara atau mengambil kebijakan selalu mwngutip kalimat "atas nama rakyat", tetapi hasil yang didapat jauh panggang dari api.

Inilah
Indonesia saat ini!

Jatuhkanlah tiga buah batu dari pesawat udara di wilayah
Indonesia, maka, yakinlah satu di antara batu itu akan mengenai kepala koruptor



--
[h][A][n][u][N][g] - living in the beautiful life

11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT
"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Tuesday, July 31, 2007

mendaki gunung sebagai sebuah filosofi hidup

mendaki gunung sebagai sebuah filosofi hidup

yaa benar, mendaki gunung tak jauh berbeda dengan kehidupan. samtaims
kita melewati tanjakan yang terjal, hingga kita hampir2 menyerah,
terkadang juga kita menyusuri jalanan di tepi jurang, harus hati2
melangkah karena jika tidak berhati2 bisa terpeleset. ketika
terpeleset mampukah kita melanjutkan perjalanan, atau memilih mundur
dan turun untuk selanjutnya pulang.

terkadang melewati turunan yang curam, terkadang hanya padang ilalang
datar ratusan meter. terkdang harus berhenti untuk melepas lelah
setelah perjalanan panjang.

seperti halnya hidup, ketika menempuh perjalanan kita banyak mengeluh
karena capek atau menikmati saja pemandangan sekitar. itu adalah
pilihan. dengan jalur yang sama, beban yang sama, sikap pendaki satu
dengan yang lain tentu akan berbeda.

beratnya beban di punggung adalah bekal kita. tidak murah memang
segala bekal kita namun sangat sepadan dengan apa yang akan kita
nikmati selama mendaki gunung.

sesekali kita membutuhkan orang lain untuk berpegangan ketika melewati
titian. terkadang kita harus mempercayakan nyawa kita kepada teman
kita ketika kita perlu memanjat bagian gunung berupa tebing yang
curam. sesekali kita membutuhkan teman kita untuk memasang tenda.
sesekali kita membantu merawat teman yang sakit atau cidera dalam
pendakian.

kadang kita mebawa bekal yang "wah", chicken nugget, baso, sayuran
impor, sosis, jeruk mandarin, minuman bersoda dan berwarna, dsb, keril
dengan bendera inggris sebagai logo, sleeping bag isi bulu angsa,
sepatu trek dengan harga enam digit, dsb. terkadang pula kita hanya
membawa daypack isi raincoat dan snack ringan dengan beralas kaki
sandal jepit empat ribuan rupiah.

di gunung kita hanyalah penumpang, numpang lewat, numpang nge-camp,
numpang buang air. sering terjadi hal2 di luar akal sehat dan logika
ketika kita tidak mengindahkan "tata krama" di gunung. disadari atau
tidak, percaya atau tidak, hukum sebab akibat, karma dan samsara,
berlaku sebagaimana kehidupan sehari2.

bagaimana kita mempatkan diri di gunung, terhadap penduduk setempat,
terhadap pepohonan, sungai, satwa, dan sebagainya merupakan gambaran
bagaimana kita hidup sehari2. bagaimana perilaku seseorang di gunung
adalah perilaku sesungguhnya dia di kehidupan sehari2nya.

satu pendaki dengan pendaki lain berbeda pandangan mengenai pendakian
yang berhasil. si A berpadnagan pendakian yang berhasil adalah jika
dia telah sampai di puncak walau mungkin teman2 se-timnya tidak
berhasil. si B berpandangan pendakian yang berhasil adalah jika
seluruh anggota tim berhasil ke puncak bagaimanapun caranya.

ada yang lebih senang mendaki sendirian, karena berbagai alasan, tidak
mau merepotkan orang lain, lebih bebas sendirian, tidak mau direpotkan
orang lain, sok berani, dsb. ada yang lebih suka dalam kelompok kecil
karena bisa saling membantu, saling ketergantungan, mudah diatur2,
dsb.

ada yang mendaki dengan menikmati keseluruhan perjalanan dari belanja
hingga puncak, hingga turun lagi, ada yang berprinsip bersakit2 dahulu
(perjalanan berat, bawaan banyak, bekal lebih dari cukup)
bersenang-senang kemudian (baru di puncak bisa menikmati naik gunung,
keberhasilan katanya, bongkar bekal, dan pesta), ada yang dari awal
sampai turun lagi cuma ngeluh karena mendaki gunung karena terpaksa..

bagaimana kita mendaki gunung, seperti itulah kita menjalani hidup kita..

..

catatan akhir:
kepada gunung dan hutan rimba aku belajar,
mengenal aku dan ke-aku-an,
belajar melangkah,
menyingkronkan mata dengan hati,

Sang Pencipta, jangan Engkau ambil dulu kemampuanku untuk menikmati
dan mensyukuri segala karuniaMu..
percayakan kepadaku untuk kujaga hingga esok

--
[h][A][n][u][N][g] - living in the beautiful life
YM: hanung_665

11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT
"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Sunday, July 29, 2007

[Kawruh Basa Jawa] Jenenge godhong..

aren : dliring
asem : sinom
cocor bebek : tiba urip
dhadhap : tawa
gedhang : ujungan
gedhang garing : klaras
gebang : kajang
jambe : procot
jarak : bledek
jarak kebo : lomah-lomeh
jati : jompong
kacang brol : rendeng
kacang lanjaran : lembayung
kates : gampleng
kecipir : cethethet
kelor : limaran
kemladheyan : kumudu
kluwih : kleyang
krambil : blarak
krambil enom : janur
lempuyang : lirih
lombok : sabrang
mlinjo : so
pari : damen
pring : elarmanyura
randhu : baladewa
siwalan : lontar
tales : lumbu
tebu garing : rapak
tela : jlegor
turi : pethuk
wuni : mojar
widara putih : trawas


--
[h][A][n][u][N][g] - living in the beautiful life

11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT
"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Wednesday, July 18, 2007

membersihkan sensor 30D yang kotor

sebenarnya dari kmaren abis antar pak asep udah nyadar klo sensor
kmasukan debu bandel. tapi lupa tidak membersihkannya.

tadi pas motret liputan kedatangan tim akreditasi ke unmuh baru nyadar
di bandara klo sensor kotor yang kmaren belum bersih. bongkar lensa
trus di-blow ga bersih2, juga ke arah sensor ga bersih2 juga. alhasil
hasil foto semua ada noktah hitamnya..dan ini baru ngedit di ps biar
ilang noda tersebut.

berhubung batere kamera lobet jadi ga bisa memanfaatkan cencor cleaning.

akhirnya terbersit ide buat bulb 10 detik dengan lensa terbuka
kemudian di-blow dengn hati2. alhamdulilah debunya udah ilang.

nge-blownya hati2 jangan sampe ujung blower masuk di bawah mirror
soalnya klo pas mirrornya balik lagi bisa2 kejepit tuh ujung blower.

--
[h][A][n][u][N][g] - living in the beautiful life

11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT
"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Sunday, July 15, 2007

Stringer

Stringer
Professions Wed, 01 Mar 2006 14:08:00 WIB

Kalau kita coba tengok dictionary untuk mencari arti kata "stringer",
di situ akan ditemukan berbagai arti. Mulai dari "pengupas", "balok",
sampai pada arti yang berhubungan dengan media massa. "Stringer",
dalam lingkup dunia jurnalistik, dimaksudkan sebagai wartawan lepas
atau pencari berita yang bekerja untuk sebuah media tertentu--biasanya
kantor-kantor berita asing.

Jika mengacu pada kantor-kantor berita asing yang ada di Indonesia,
tentu perhatian kita otomatis akan lari pada Reuters, AFP dan Jiji
Press. Namun bukan berarti di media-media massa lain tidak
mempekerjakan seorang stringer, hanya saja profesi ini terasa lebih
dibutuhkan di kantor-kantor berita asing.

Sekarang mari kita cermati, apa sih yang dinamakan "stringer"
tersebut? Stringer adalah seorang wartawan lepas, yang bekerja secara
lepas di sebuah media massa tertentu. Tapi fungsinya lebih dari
sekedar seorang mahasiswa jurnalistik yang bekerja part-time di sebuah
media, karena seorang stringer idealnya diharapkan memiliki
spesialisasi di bidang berita tertentu. Misalnya di bidang politik,
bidang sosial budaya, bidang ekonomi dan sebagainya. Seorang stringer
juga diharapkan memiliki jaringan dan kontak yang luas di bidang
berita yang dikuasainya tersebut, hal mana yang tentunya sangat jarang
dimiliki oleh seorang mahasiwa part-time yang bekerja sebagai reporter
di sebuah media massa tertentu.

Ruang lingkup kerja seorang sringer adalah mengumpulkan
sebanyak-banyaknya berita berkualitas yang terjadi di bidang berita
yang dikuasainya tersebut, untuk kemudian dilaporkan pada media
tempatnya bekerja. Sebagai contoh: seorang stringer yang ditempatkan
di desk politik, dimana dia diharapkan memiliki pengetahuan, jaringan
dan kontak yang luas di bidang tersebut, yang membuatnya lebih mudah
menembus sumber-sumber yang berkaitan dengan berita-berita politik
yang masih hangat. Stringer di desk politik ini diharapkan menjadi
garda terdepan bagi berita-berita politik yang sedang hangat, semisal
demonstrasi mahasiswa/ karyawan/ buruh, pemecatan seorang pejabat,
berita-berita korupsi atau penggelapan dana, dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan seorang stringer yang ditempatkan di desk kriminal,
dimana dia diharapkan sebagai "orang yang pertama kali tahu" mengenai
kasus-kasus kriminal yang terjadi di sekitarnya: pembunuhan,
pemerkosaan, perampokan dan lain-lain. Hal yang sama terjadi pada
stringer untuk desk ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya.

Karena harapan yang dibebankan di pundaknya tersebut, seorang stringer
biasanya datang dari kalangan reporter resmi sebuah media massa, yang
bekerja dobel sebagai seorang stringer di media lainnya. Karena itu,
tidak heran bila profesi ini tidak memiliki ikatan resmi yang diikuti
oleh hal-hal seperti pengangkatan sebagai karyawan tetap, karena
sifatnya yang "undercover". Kebanyakan stringer yang ada di
kantor-kantor berita asing, biasanya sudah memiliki "jam terbang"
cukup tinggi sebagai reporter, plus jaringan cukup luas dalam bidang
berita yang dipegangnya.

Deskripsi kerja seorang stringer biasanya sebagai berikut: mencari dan
mengumpulkan berita, untuk kemudian dilaporkan pada media tempat ia
bekerja sebagai seorang stringer melalui telepon. That's it. Cukup
simpel bukan? Namun di beberapa media, seorang stringer juga
diharapkan menulis berita yang didapatnya di lapangan, seperti kantor
pusat Jiji Press di Singapura, misalnya.

Seorang stringer dibayar berdasarkan berita yang didapatnya di
lapangan. Bila dalam satu hari ia mendapatkan 3-4 berita eksklusif
atau layak muat, sebanyak itulah ia akan dibayar. Mengenai berapa
penghargaan yang didapat untuk satu berita, tidak terdapat jumlah yang
saklek yang berlaku di seluruh media atau kantor berita yang
mempekerjakan seorang stringer. Hal ini sangat relatif, tergantung di
media mana ia bekerja. Untuk kantor berita asing, stringer ada yang
dibayar dengan dolar, tapi ada juga yang dijumlahkan dalam rupiah.
Menurut sumber kami, biasanya, bila ditarik garis rata-rata, untuk
satu berita yang layak muat, dihargai sekitar Rp. 200-000 sampai Rp.
300.000. Itu untuk stringer yang sudah senior. Untuk yang masih
merintis atau masih baru, tentunya di bawah jumlah tersebut.

Sumber gambar: www.ornl.gov

Sumber: CBN (portal.cbn.net.id)


tag: fotografi, jurnalistik, stringer, berita, CBN
--
[h][A][n][u][N][g] - living in the beautiful life

11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT
"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Thursday, July 12, 2007

[Kawruh basa Jawa] Perangan sing...

ampeg : dhodhone
anyel : atine
ayem : atine
benjut : sirahe
bingung : pikirane
budheg : kupinge
cekakaran : sikile
cekat-ceket : tandange
cengeng : gulune
cleguken : kalamenjinge
crocosan : luhe
cungar-cungir : irunge
dheg-dhegan : atine
dleweran : kringete, getihe
edheg :sikile
gela-gelo : gulune
gemeter : awake
ger-geran : guyune
glagepan : cangkeme
gomen : ilate
gerus : wetenge
gragapan : tangane
greges : awake
gringgingen : sikile
grusa-grusu : tanduke
jepapangan : tangane
jimpe : tangane
judheg : atine
krembayangan : rambute
kaku : awake
kebat : playune
keju : tangane
kemlekeran : wetenge
kesel : sikile
kethawilan : tangane
kiyu : tangane
klakepan : cangkeme
klametan lambene
kleweran : taline
konangan : mripate
kranggehan : tangane
kriyap-kriyip : mripate
lemet : brengose
leslesan : awake
linu : untune
lirih : swarane
lumpangen : cangkeme
manggut-manggut : sirahe
mangkel atine
mecucu cangkeme
melet ilate
mencep lambene
meniren lambene
menggeh-menggeh ambegane
mengkirig githoke
mlolo mripate
mlorok mripate
mules wetenge
mumet sirahe
ndower lambene
ndomble lambene
ngawet lambene
ngelu sirahe
ngethok sikile
ngintip lambene
ngorong gorokane
ngowoh lambene
nyenthing bokonge
nyomak-nyamik cangkeme
pancingen gorokane
padhes dlamakane
pegel boyoke
pekangkangan sikile
pendaringan mripate
pileg irunge
pringisan cangkeme
pucet raine
rangen sikile
rembes mripate
rindhik lakune
seger awake
senep wetenge
sengaol guneme
sepet mripate
serak gorokane
seseg dhadhane
sithip mripate
sraweyan tangane
suduken wetenge
suntrut raine
thik-thikan tangane
thingak-thinguk sirahe
thuyuk-thuyuk lakune
trocosan luhe
wel-welan tangane

--
[h][A][n][u][N][g] - living in the beautiful life

"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal