Saturday, June 30, 2007

alhamdulillah..30D udah di tangan

alhamdulillah..30D kit udah di tangan..

tinggal memanfaatkan dengan sebaik2nya dan kemudian sambil nabung beli teman2nya :D

inceran selanjutnya:
- CPL n IR filter
- 580EX
- 70-300
-50 f/1,8
- 10-22
- 24-70
- 70-200

ups..banyak amat yah? hehehe..

--
hanung_665

Saturday, June 9, 2007

harga 30D kok naik lagi yah?

barusan liat2 harga di oktagon, JPC Kemang, dan Toko Digital (Surabaya)..

harga 30D kok naik lagi yah?

kmaren bisa dapat CF 2GB sekrang jadi nambah lagi deh..:-(

--
[H][a][n][u][n][G] - living in the beautiful life

11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT
"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Thursday, June 7, 2007

[fotografi] my new weapon

insyaallah bualn ini atau akhir bulan ini mo beli senjata baru buat moto..

Canon 30D + 18-55 (kit) + CF 2GB Sandisk Extreme III

ya..kamera yang udah diincer sejak acara buka bersama nature trekker 2005 silam..:D
untuk menggantikan FZ30 yang udah beberapa bulan dijual ke teman dengan harga miring..:D

berhubung duitnya cuma cukup beli kit saja ya gpp..
580X nyusul berikutnya..
70-300 berikutnya lagi..
selanjutnya 50 1,8
trus 10-22
nabung berat biar selanjutnya mampu beli 70-200 2,8L :D:D:D

tar klo dah ada kameranya silakan yang pengen ber-narsis-ria, pengen jadi model dadakan, pokoknya pengen dipotret silakan hubungi saya langsung..free of charge cuma bawa cd kosong n cetak sendiri yaa..hehehe..

*tak sabar menunggu akhir bulan*

betewe oktagon apa jpc kemang yah? *mikir*
tar malah jadinya sumber bahagia surabaya..

cek harga lagi aah..
--
[H][a][n][u][n][G] - living in the beautiful life

"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Monday, June 4, 2007

Fwd: [Perbendaharaan List] Dari negeri seberang...

---------- Forwarded message ----------
From: affanz_sugoi <affanz_go@yahoo.com>
Date: Jun 4, 2007 5:54 PM
Subject: [Perbendaharaan List] Dari negeri seberang...
To: perbendaharaan-list@yahoogroups.com

____________________________________________________
Atas izin penulis.
Courtesy of Yuli Setyo Indartono, Mahasiswa S3 di Graduate School of
Science and Technology, Kobe University

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu
kala, namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti
sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian
di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada
nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak
dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan
fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di
Jepang.
01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira
situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang
diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor
senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut
malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang
sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan
mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin
saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu
sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk,
berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah
tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf
teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa
melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan
ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi
dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani
masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan
ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda
dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya
hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari
sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut
- tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di
Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan
berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi
penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan
fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan
tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau
walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas
Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan
saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan
sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama
anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal,
pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau
tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW,
Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu
mensyaratkan kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju
dan meningkat, sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya
adalah orang asing yang kurang lancer berbahasa Jepang, saya
mendapatkan "fasilitas" diantar kesana kemari pada saat mengurus
berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri
saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah
mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka
semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya
membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang
lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang
yang kurang beruntung. Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa
dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor
walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak
penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang
lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut.
Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus
mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya
pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban
bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya
pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan
mengkopinya dari sana . Ambil jalan yang mudah, namun tetap
mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang. Berstatus
mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat
terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali
lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada
kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan
yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon
perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan
tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf)
keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai,
karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum
berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi
itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik
untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam
harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas
lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa
dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan
shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya
hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak
akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum,
menyangkut kehormatan di Negara ini.
Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di
Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul
09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00
(jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda
akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya
membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda
melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di kantor
itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai
staf kantor tersebut memasuki stasiun
kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua
memiliki niat bekerja versi Jepang.

02. Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol
murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah
mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada
permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang
disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut,
penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi
sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali
memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami
mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya
dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan
kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap
jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka
mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan
dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat
dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu
menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang
tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata
uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen
sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek
berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan
Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending
machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi
sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa
menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena
"keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan
bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu
pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah
yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket
melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru.
Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya,
karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan
pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat
kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami,
dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak
apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk
sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas
supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan
sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada
anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang
yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah
memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah
petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka
berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar;
justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan
kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko
elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi computer yang
anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang
melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli .

03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe
demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah
dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan
metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang
gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun
polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di
Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di
jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila
saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya
serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau.
Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek
terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang -
mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak
atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya
melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di
negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda
lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri
anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini
lebih pada fungsi control dan pengambilan keputusan (decision maker) –
kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot
dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata
melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat,
mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan
bekerja.

04.Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini
hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah
negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni.
Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah
Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah
pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk
terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di
mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni,
dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan
kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik
(akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda
memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih
dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan,
bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa
ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus
rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang
siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai
dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam
berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang
pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan
menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa
di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist.
Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran,
boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan
dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus,
kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat
terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di
Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki
kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang
tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen
(kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di
Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu
lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang,
kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak
menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi
terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik
di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara
karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.Nasehat "tengoklah dulu
kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak sangat penting
untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan
di Jepang. Anda cukup menunggu
lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda
akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan.
Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan
menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hamper
terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup

05.Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih
mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya
belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan
(gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat
perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa
pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional.
Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya
berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan
mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun
menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan
mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih
kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang
dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos
berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya
bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke
rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang
menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa
pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang
berbeda kepada para pemegang kartu asuransi – apalagi untuk kami yang
mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter
dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta
prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan
yang sebenar-benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan
keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri
melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir
yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi
sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban
pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah
kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota
Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari
itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari
pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah
kuncinya.


--
[H][a][n][u][n][G] - living in the beautiful life
665/SPA/01
YM: hanung_665

http://www.bikepics.com/members/hanung665/06raider150/
11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT

"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Wednesday, May 30, 2007

(gempa) goyang dikit subuh2..

barusan terjadi gempa bumi di luwuk. bikin terbangun dari tidur trus langsung posting deh, kan tidur di kantor :D nikmatnya berinternet dan nge-blog klo kaya gini, punya ide langsung bangun trus nulis :D:D

kembali ke..lektooop..

gempa bumi, yang di sini biasa di sebut "tanah goyang" merupakan hal yang "biasa" terjadi. luwuk merupakan salah satu jalur gempa di kawasa tmur indonesia. gempa dasyat terakhir sekitar 2001 dengan kekuatan cukup besar untuk merobohkan bebarapa rumah warga dan juga meruntuhkan atap teras KPPN Luwuk dan menimpa mobil dinas sehingga kap mobil hancur berantakan.

setelah peristiwa itu sudah ratusan kali gempa lainnya dengan skala richter yang lebih kecil terjadi. tidak siang tidak malam. dulu pertama kali saya merasakan gempa di luwuk langsung lari ke luar gedung. ternyata orang2 kantor masih santai2 di tempatnya, mereka bilang " te'papa, cuma tanah goyang dikit, klo so (sudah) lewat lima detik baru torang (kita) kluar" dengan santainya. saya pikir gila nih orang2, ga tau bahaya apa. namun lama2 saya terbiasa juga, klo belom lima detik brarti gempa belum besar dan belum lari kluar..:D:D

jadi teringat pernah suatu siang terjadi gempa yang lumayan "terasa" mengguncang bumi luwuk, saat itu saya dan teman2 kantor asyik main counter strike: condition zero secara online (citanya game ini baru beberapa hari di-install jadi masih pada semangat main). karena gempa yang lumayan terasa maka orang2 kantor berlarian ke luar gedung, ee tiba2 di dalam gedung terdengar suara tawa keras dari seorang teman kantor "hahaha..dorang fathir dan imam saya tembak pas di kepalanya.." (klo main cs di kantor suka teriak2 girang klo bisa tembak mati pemain lain..) . di luar gedung saya saling pandang dengan teman2 sesama pemain CS dan langsung tertawa2, rupanya saking asyiknya main cs bapak itu tidak merasakan gempa barusan. setelah balik ke ruangan lagi dan menceritakan klo barusan terjadi gempa bapak itu bilang " cukurungan*, pantasan baku hadap dengan dorang fathir dan imam te' barespon, kong saya tempak dua2..hahaha.."

* cukurungan=
kata umpatan ringan, setara bilang "anjrit" di jakarta, atau "jamput" di jawa

salam goyang,

--
[H][a][n][u][n][G] - living in the beautiful life
665/SPA/01
YM: hanung_665

11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT
"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Saturday, May 26, 2007

Re: stapala Re: Luwuk, my little paradise (part 1 of ?)

-----------------------------------------------------------
On 5/25/07, MUFRI YANDI <mufriyandi@gmail.com> wrote:

nung, mmm... nona2 luwuk yg minoritas (bening) agresif?
sepertinya elu ketemu komunitas "korban tv" disana ya... selain gadget, sepatu dan jam tangan yg (sok) trendi apa nona2 di sana juga pake jeans yg 'kelihatan-kolor-dari-belakang' seperti di mall2 itu?
 
andi37093

.

__,_._,___
------------------------------------------------------------

nona2 di sini rata2 berani (sebagian agresif sih), ga kaya di jakart atau di kota2 di jawa (menurut saya sih). misalnya kita di suatu acara misalnya festival band, atau bahkan di jalan atau di kilo lima, klo kita mo nyamperin dan langsung kenalan pasti akan disambut dengan baik. bukan hanya nona2 saja, masyarakat lainnya pun klo misalnya kita ga kenal, bisa dengan mudah berbincang2 panajng lebar seperti sudah lama kenal. contoh lain misalnya pas di lampu merah, motor ada stiker dengan kata2 yang lucu, maka pengendara motor lain yang kebetulan baca tak sungkan2 untuk menyapa dan atau hanya sekedar berkata "stikernya keren tuh", selanjutnya percakapan kecilpun bergulir. hal ini mungkin di kota kecil masih tinggi rasa kekeluargaannya, satu sama lain tidak mengandung perasaan curiga atau was2 akan sesuatu.

celana hipster tidak terlalu ngetrend kayanya. tapi rambut warna-warni ada di mana2 (ketularan manado kali? soalnya dengar2 di manado begitu.). mulai dari anak smp hingga ibu2, dari laki2, perempuan hingga bencong (bencong kan banyakan kerja di salon jadi hair-stylish banget..:D). entah nanti jika mall telah dibuka barangkali hipster2 mulai beredaran di mall.

oia, mall sedang dibangun, beberapa minggu yang lalu pasar Sopping (yang dulu pasar besar dan terbakar) telah dikosongkan dari pedagang (yang masih bertahan di situ) dan kemudian diratakan dengan tanah. hingga hari ini masih terlihat truk2 penguruk dan kendaraan berat meratakan dan memadatkan tanahnya.

lokasinya sendiri (dulunya) merupakan laut yang diuruk untuk dibangun pasar (Sopping) dan masjid agung. jadi mall itu nantinya akan beberapa meter dari masjid Agung. menurut saya pribadi sih agak disayangkan pemilihan lokasi tersebut.

mall yang menurut radar Sulteng memakan anggaran sebesar 60M dibiayai oleh pengusaha setempat bekerja sama dengan pengusaha dari surabaya dan masih kerabat pengusaha dari luwuk tersebut. tanah lokasi pembangunan mall tersebut adalah milik pemerintah daerah. perjanjiannya sih mall tersebut akan dikelola oleh pengusaha tersebut selama 25 tahun (apa 35 tahun yah? lupa) dan selama itu akan tetap membayar pajak kepada pemerintah daerah. setelah 25 tahun pengelolaan mall tersebut akan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah.

msyarakat menanggapinya dengan beragam. ada yang tidak setuju akrena berdekatan dengan masjid. ada yang setuju karena dapat meningkatkan kemajuan kota luwuk. ada yang yang ragu apakah stand/booth di mall tersebut akan laku mengingat baru saja dibuka Luwuk Trade Center, komplek ruko2, yang masih banyak yang kosong karena mahal (dengar2 800 juta setahun). andaikan ada investor dari luar yang masuk misalnya Optik Melawai, Sport Station, dll, apakah daya beli masyarakat luwuk sudah sampai kesitu. dsb..dsb..dsb..

apalagi melihat Mall tatura di palu yang cuma ramai awal2nya saja (kata adhe_666 banyak yang cuma sekedar naik turun di eskalator, maklum eskalator pertama di palu katanya..:D:D) fenomena ramai di awal ini juga terjadi di luwuk. pada awal dibukanya sebuah outlet baju2 raminya minta ampun, namun setelah beberapa bulan terjadi pengurangan pegawai besar2an karena sudah sepi. hal itu juga terjadi ketika luwuk trade center dibuka, swalayan terbesarnya yaitu Golden Hill ramai pengunjung dan bernagsur2 berkurang hingga jadi biasa2 saja.

demikianlah fenomena yang terjadi di luwuk. masyarakat mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu yang baru. mengunjungi tempat baru. atau apa saja yang baru. mungkin ini juga salah satu efek dari kehausan masyarakat akan hiburan.

oia, malam kamis kemarin (23/5/07) sekitar pukul 22.00 wita terjadi kebakaran hebat yang meratakan sebuah rumah kayu (dan beratap ijuk). rumah tersebut terletak 100m di seberang bagian belakang kantor. pemiliknya lupa mematikan kompor saat memasak. dilaporkan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. kerugian materi meliputi sebuah rumah dan isinya serta "sepotong" dapur tetangganya.

kontan saja kebakaran besar tersebut mengundang perhatian masyarakat, hingga tak ayal lagi orang dari berbagai penjuru kota berduyung-duyung datang ke lokasi kejadian. sebagian berusaha memadamkan api, sebagian lainnya membantu mengeluarkan barang2 yang bisa diselamatkan, sebagian besar lainnya hanya menonton karena besarnya kobaran api.

pemandangan serupa juga terjadi beberapa bulan silam ketika pada suatu malam pasar Simpong (pengganti pasar Sopping) juga terbakar. masyarakat berduyung2 mendatangi lokasi sekedar untuk menonton.

ya..masyakarat luwuk haus hiburan. hingga dulu pernah terbersit ide di kepala saya untuk membuat studio bioskop mini dengan konsep seperti yang pernah saya baca di majalah tentang bioskop mini di kota bandung klo tidak salah. bioskop tersebut berkapasitas sekitar 6-10 orang dengan sofa empuk yang sangat nyaman di dalam ruangan ber-AC. dengan bermodalkan seperangkat komputer, proyektor, AC, dan tempat maka studio tersebut bisa berdiri. penonton yang biasanya satu geng anak2 muda tersebut cukup membawa dvd film pilihannya sendiri kemudian membayar sekian ratus ribu dan mini theater tersebut sudah bisa dinikmati. bedanya klo di majalah tersebut film disediakan studio sedangkan di dalam ide saya film dibawa sendiri. di majalah menjual tontonan (bayarnya per kepala), klo di saya menyewakan tempat (bayarnya per pakai tempat).

namun sayang besarnya biaya yang diperlukan menjadi hambatan. proyektor baru paling murah di pasaran adalah 7,5jt, itupun masih resolusi 600x800 padahal untuk kualitas yang bagus minimal 1024x768 (9jt lebih). belum kontrak rumah untuk lokasi (>5 jt setahun), pemasangan karpet seluruh dinding, sofa yang nyaman, AC (klo pake kipas angin kurang mantap). yah barangkali masih hanya dalam angan2 saja. bermimpi boleh kan sapa tau suatu saat bisa terwujud..:D:D

sementara ini masih nabung buat beli kamdig, biar bisa dapat penghasilan sampingan (biarpun dikit) dari jual diri jadi "lelaki panggilan" hahaha..bentar lagi insyaallah. sapa tau hasilnya bisa buat membangun theater impian :D itupun klo ga kburu pindah ke kota lain yang tentu lain lagi celah yang bisa dimanfaatkan..:)

doakan yaaa..:D:D

--
[H][a][n][u][n][G] - living in the beautiful life
665/SPA/01
YM: hanung_665

11 mdpl, 0°57'166" LS, 122°47'287" BT
"Semua Orang itu Guru, Alam Raya Sekolahku, Sejahteralah Bangsaku" - Marjinal

Sunday, May 20, 2007

pusing..bingung..miskin..

bulan depan pengen mudik dan tekad sudah bulat. dengan uang pas2an di kantong, moga bisa nyampe rumah n balik lagi ke luwuk dengan hati puas karena bisa mudik n bekumpul dengan keluarga. pengennya sih pas pulang bawa duit banyak biar bisa belanja2 barang yang ga ada di sini hehe..tapi ya apalah daya masih miskin..*sigh*